Hakim Agung yang Paling Ditakuti para Terpidana Koruptor di Indonesia

- Jurnalis

Rabu, 21 Februari 2024 - 02:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hakim Agung Artidjo Alkostar

i

Hakim Agung Artidjo Alkostar

KabarpersDr. Artidjo Alkostar, S.H., LLM adalah seorang pengacara, hakim, dan akademisi hukum Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Hakim Agung dan Ketua Kamar Pidana Mahkamah Agung RI.

Di mana Artidjo Alkostar terkenal, karena dengan vonisnya yang cenderung memperberat hukuman khususnya terhadap terpidana kasus korupsi, dan dissenting opinion yang ia keluarkan dalam beberapa perkara besar.

Artidjo menamatkan pendidikan SMA di Asem Bagus, Situbondo. Artidjo meraih gelar sarjana hukum di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia pada tahun 1976 dan magister di Universitas Northwestern, Chicago, Amerika Serikat pada tahun 2002.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kemudian di Northwestern, Artidjo menulis disertasi mengenai pengadilan hak asasi manusia dalam sistem peradilan di Indonesia.

Artidjo juga pernah menempuh pelatihan pengacara hak asasi manusia di Universitas Columbia selama enam bulanan. Lalu, karier Artidjo Alkostar di bidang hukum dimulai pada tahun 1976.

BACA JUGA :  Pahlawan Nasional: Kisah Hidup dan Riwayat Militer Panglima Besar Jenderal TNI Soedirman

Awalnya, ia menjadi tenaga pengajar di Fakultas Hukum UII Yogyakarta. Pada tahun 1981, ia menjadi bagian dari Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta, masing-masing menjadi wakil direktur pada tahun 1981 hingga 1983 dan direktur pada tahun 1983 hingga 1989.

Pada saat yang sama, ia bekerja selama dua tahun di Human Right Watch divisi Asia di New York. Sepulang dari Amerika, ia mendirikan kantor hukum Artidjo Alkostar and Associates hingga tahun 2000. Selanjutnya, pada tahun 2000 ia terpilih sebagai Hakim Agung Republik Indonesia.

Ketika masih sebagai pengacara, Artidjo tercatat sering menangani perkara berisiko. Ia pernah menjadi penasihat hukum kasus Komando Jihad, kasus penembakan gali atau bromocorah di Yogyakarta.

Bahkan pada kasus Santa Cruz (Timor Timur), kasus pembunuhan wartawan Bernas Muhammad Syafruddin. Serta ia sebagai ketua tim pembela gugatan kecurangan Pemilu 1997 di Pamekasan, Madura.

BACA JUGA :  Pahlawan Nasional: Tuanku Imam Bonjol hingga Penyesalannya dalam Perang Padri

Artidjo Alkostar mengawali kariernya sebagai hakim agung pada tahun 2000, dan pensiun pada 22 Mei 2018. Sepanjang 18 tahun mengabdi, ia telah menyelesaikan sebanyak 19.708 berkas perkara di Mahkamah Agung.

Sebelumnya berbagai kasus besar telah ia tangani, seperti kasus proyek pusat olahraga Hambalang, suap impor daging, dan suap Ketua Mahkamah Konstitusi.

Kiprah Artidjo sebagai hakim agung terkemuka sebab ia berani berbeda pendapat dengan majelis hakim lain pada perkara mantan Presiden Soeharto dan skandal Bank Bali dengan terdakwa Djoko Soegiarto Tjandra.

Pada kasus Djoko Tjandra, ia menyimpulkan terdakwa bersalah dan dihukum 20 tahun meski dua hakim agung lain membebaskannya. Putusan kasus ini memperkenalkan dissenting opinion dari Artidjo yang membuat namanya kian mencuat.

BACA JUGA :  Pahlawan Revolusi: Sejarah Jenderal TNI Mas Tirtodarmo Haryono hingga Peristiwa G30S PKI

Menurutnya, melalui dissenting opinion tersebut ia berharap orang tidak menganggapnya sebagai pecundang, karena adanya dukungan kepada pendapatnya.

Artidjo menambahkan adanya kemajuan dari dirinya, sebab ketika jadi pengacara ia kerap kalah dalam menangani kasus, karena tidak mau memberi suap kepada hakim dan jaksa.

Selanjutnya, pada akhir hayatnya, ia menjabat sebagai anggota Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi periode 2019-2023. Artidjo Alkostar lahir pada tahun 22 Mei 1948 di Situbondo, Jawa Timur. Ayah dan ibunya berasal dari Sumenep, Madura.

Sebagai hakim agung, ia kerap memberi putusan kasasi dengan tambahan masa hukuman dalam kasus korupsi. Oleh karena itu, koruptor rajin mencabut perkaranya ketika mengetahui Artidjo yang akan menangani perkaranya. (Sf)

Editor: Safriz (Berbagai Sumber)

Komentar Anda

Berita Terkait

Jawara Dikenal Pahlawan Bagi Warga Betawi, Ini Sejarah Singkat Si Pitoeng
Pahlawan Nasional: Sejarah Singkat Perjalanan Buya Hamka Semasa Hidupnya
Sejarah Singkat Bapak Koperasi Indonesia dan Wakil Presiden Pertama Mohammad Hatta
Tokoh Filosof Dunia: Beberapa Karya Pemikiran Aristoteles dalam Sejarah hingga Kisah Tragisnya
Tokoh Nasional: Biografi dan Sejarah Raden Saleh Sang Maestro Pelukis Kenamaan Indonesia
Pahlawan Revolusi: Mengenang Sejarah ke-7 Pahlawan Revolusi yang Tewas dalam Serangan G30S/PKI 1965
Rosario Dikenal Berkat Ketenaran Pemain Sepakbola, Berikut Kabar Lionel Messi Saat Ini
Riwayat Hidup dan Karir Milter Pahlawan Revolusi Jenderal TNI Ahmad Yani

Berita Terkait

Senin, 15 April 2024 - 00:19 WIB

Mengenal Ukuran Siklon Tropis atau Badai dengan Kekuatan Besar

Minggu, 14 April 2024 - 01:52 WIB

Mengenal Advertising dari Aspek Bahasa dan Berbagai Jenisnya

Sabtu, 13 April 2024 - 00:46 WIB

Merubah SHGB ke SHM, Berikut Ini Peraturan ATR/BPN dan Cara Ngurusnya

Sabtu, 13 April 2024 - 00:44 WIB

Konsep Politik Berdasarkan Pendapat dari Berbagai Ahli Politik Legendaris

Jumat, 12 April 2024 - 10:48 WIB

Oportunis? Waspadai dan Kenali Ciri-ciri Karakternya, Simak Selengkapnya!

Jumat, 12 April 2024 - 10:39 WIB

Sejarah Awal Berdiri Kejaksaan, Berikut Ini Struktur Organisasi serta Fungsinya

Jumat, 12 April 2024 - 10:34 WIB

Pengertian Warehouse, Berikut Ini Fungsi dan Manfaat di Perusahaan

Jumat, 12 April 2024 - 01:26 WIB

Tujuan Dirikan Perusahaan, Berikut Ini Beberapa Tugas dari Struktur Jabatannya

Berita Terbaru

Gambar Ilustrasi Redaksi kabarpers (Siklon Tropis)

Catatan Redaksi

Mengenal Ukuran Siklon Tropis atau Badai dengan Kekuatan Besar

Senin, 15 Apr 2024 - 00:19 WIB

Eksplorasi konten lain dari kabarpers

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca