Pahlawan Nasional: Kisah Hidup dan Riwayat Militer Panglima Besar Jenderal TNI Soedirman

- Jurnalis

Minggu, 9 Oktober 2022 - 04:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Ilustrasi Redaksi kabarpers (Jenderal TNI Soedirman)

i

Gambar Ilustrasi Redaksi kabarpers (Jenderal TNI Soedirman)

Kabarpers – Jenderal Besar TNI (Anumerta) Raden Soedirman adalah seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Sebagai Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia pertama ia adalah sosok yang dihormati di Indonesia.

Jenderal Soedirman dalam kisahnya terlahir dari pasangan rakyat biasa-biasa saja di Purbalingga. Pada saat itu Soedirman diadopsi oleh pamannya yang seorang priyayi. Setelah keluarganya pindah ke Cilacap pada tahun 1916, Soedirman tumbuh menjadi seorang siswa rajin.

Dalam bersekolah, Soedirman sangat aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, termasuk mengikuti program kepanduan yang dijalankan oleh organisasi Islam Muhammadiyah. Saat di sekolah menengah, Soedirman mulai menunjukkan kemampuannya dalam memimpin dan berorganisasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Soedirman sangat dihormati oleh masyarakat setempat, karena ketaatannya pada Islam. Setelah berhenti kuliah keguruan pada tahun 1936, ia mulai bekerja sebagai seorang guru, dan kemudian menjadi kepala sekolah, di sekolah dasar Muhammadiyah di Cilacap.

Soedirman Mulai Bergabung dengan Tentara Pembela Tanah Air

Soedirman juga aktif dalam kegiatan-kegiatan Muhammadiyah lainnya dan ia menjadi pemimpin Kelompok Pemuda Muhammadiyah pada tahun 1937. Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942, namun Soedirman tetap mengajar kala itu.

Pada tahun 1944, ia bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang disponsori Jepang, menjabat sebagai komandan batalion di Banyumas. Selama menjabat, Soedirman bersama rekannya sesama prajurit melakukan pemberontakan, hingga kemudian diasingkan ke Bogor.

BACA JUGA :  Lolos Test Polisi, Bukti Kegigihan dan Tekad Rado Simanjuntak untuk Angkat Derajat Keluarga

Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, Soedirman melarikan diri dari pusat penahanan, kemudian ia pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan Presiden Soekarno. Soedirman ditugaskan untuk mengawasi proses penyerahan diri tentara Jepang di Banyumas, yang dilakukannya setelah mendirikan divisi lokal Badan Keamanan Rakyat (TKR).

Soedirman Diangkat Panglima Besar TNI

Pasukannya lalu dijadikan bagian dari Divisi V pada 20 Oktober oleh panglima sementara Oerip Soemohardjo, dan Soedirman bertanggung jawab atas divisi tersebut. Pada tanggal 12 November 1945, dalam sebuah pemilihan untuk menentukan panglima besar TKR di Yogyakarta,

Soedirman terpilih menjadi Panglima Besar TNI, sedangkan Oerip Soemohardjo, yang telah aktif di militer sebelum Soedirman lahir, menjadi kepala staff. Sembari menunggu pengangkatannya, Soedirman memerintahkan serangan terhadap pasukan Inggris dan Belanda di Ambarawa.

Kemudian dalam pertempuran ini dan penarikan diri tentara Inggris menyebabkan semakin kuatnya dukungan rakyat terhadap Jenderal Soedirman, dan ia akhirnya diangkat sebagai Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia pada tanggal 18 Desember 1945.

Gagalnya Perjanjian Linggarjati dan Renville

Selanjutnya, selama tiga tahun berikutnya Jenderal Soedirman menjadi saksi kegagalan negosiasi dengan tentara kolonial Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia, yang pertama adalah Perjanjian Linggarjati yang turut disusun oleh Jenderal Soedirman.

BACA JUGA :  Pahlawan Nasional: Tuanku Imam Bonjol hingga Penyesalannya dalam Perang Padri

Lalu, kemudian Perjanjian Renville yang menyebabkan Indonesia harus mengembalikan wilayah yang diambilnya dalam Agresi Militer I kepada Belanda dan penarikan 35.000 tentara Indonesia. Soedirman juga menghadapi pemberontakan dari dalam, termasuk upaya berbagai kudeta pada tahun 1948.

Jenderal Soedirman Sakit dan Pimpinan Perang Gerilya

Jenderal Soedirman kemudian menyalahkan peristiwa-peristiwa tersebut sebagai penyebab penyakit tuberkulosis-nya, karena infeksi tersebut, paru-paru kanannya dikempeskan pada bulan November 1948. Pada tanggal 19 Desember 1948, beberapa hari setelah Soedirman keluar dari rumah sakit, Belanda melancarkan Agresi Militer II untuk menduduki Yogyakarta.

Pada saat pemimpin-pemimpin politik berlindung di Keraton Sultan di Yogyakarta, Jenderal TNI Soedirman beserta sekelompok kecil tentaranya dan dokter pribadinya melakukan perjalanan ke arah selatan dan memulai perlawanan gerilya selama lebih kurang tujuh bulan.

Awalnya mereka (Pasukan Jenderal TNI Soedirman) diikuti oleh para pasukan Belanda. Namun, saat itu Jenderal Soedirman dan para pasukannya berhasil kabur dan mereka mendirikan markas sementara di Sobo, di dekat Gunung Lawu.

Dari tempat ini, ia mampu mengomandoi kegiatan militer di Pulau Jawa, termasuk Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto. Ketika Belanda mulai menarik diri, Soedirman dipanggil kembali ke Yogyakarta pada bulan Juli 1949.

BACA JUGA :  Pahlawan Nasional: Mengenal Pencipta Lagu Indonesia Raya Wage Rudolf Soepratman

Meskipun ingin terus melanjutkan perlawanan terhadap pasukan Belanda, ia dilarang oleh Presiden Soekarno. Penyakit TBC yang diidapnya kambuh, ia pensiun dan pindah ke Magelang. Soedirman wafat kurang lebih satu bulan setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.

Akhir Hayat Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman

Hingga kematian Jenderal Besar TNI Soedirman menjadi duka bagi seluruh rakyat Indonesia. Bendera setengah tiang dikibarkan dan ribuan orang berkumpul untuk menyaksikan prosesi upacara pemakaman. Soedirman terus dihormati oleh rakyat Indonesia.

Perlawanan gerilyanya ditetapkan sebagai sarana pengembangan esprit de corps bagi tentara Indonesia, dan rute gerilya sepanjang 100-kilometer (62 mi) yang ditempuhnya harus diikuti oleh taruna Indonesia sebelum lulus dari Akademi Militer.

Soedirman ditampilkan dalam uang kertas rupiah keluaran tahun 1968, dan namanya diabadikan menjadi nama sejumlah banyak jalan, universitas, museum, dan monumen, pada tanggal 10 Desember 1964, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. (Sf)

Editor : Safriz (Berbagai Sumber)

Komentar Anda

Berita Terkait

Jawara Dikenal Pahlawan Bagi Warga Betawi, Ini Sejarah Singkat Si Pitoeng
Hakim Agung yang Paling Ditakuti para Terpidana Koruptor di Indonesia
Pahlawan Nasional: Sejarah Singkat Perjalanan Buya Hamka Semasa Hidupnya
Sejarah Singkat Bapak Koperasi Indonesia dan Wakil Presiden Pertama Mohammad Hatta
Tokoh Filosof Dunia: Beberapa Karya Pemikiran Aristoteles dalam Sejarah hingga Kisah Tragisnya
Tokoh Nasional: Biografi dan Sejarah Raden Saleh Sang Maestro Pelukis Kenamaan Indonesia
Pahlawan Revolusi: Mengenang Sejarah ke-7 Pahlawan Revolusi yang Tewas dalam Serangan G30S/PKI 1965
Rosario Dikenal Berkat Ketenaran Pemain Sepakbola, Berikut Kabar Lionel Messi Saat Ini

Berita Terkait

Senin, 15 April 2024 - 00:19 WIB

Mengenal Ukuran Siklon Tropis atau Badai dengan Kekuatan Besar

Minggu, 14 April 2024 - 01:52 WIB

Mengenal Advertising dari Aspek Bahasa dan Berbagai Jenisnya

Sabtu, 13 April 2024 - 00:46 WIB

Merubah SHGB ke SHM, Berikut Ini Peraturan ATR/BPN dan Cara Ngurusnya

Sabtu, 13 April 2024 - 00:44 WIB

Konsep Politik Berdasarkan Pendapat dari Berbagai Ahli Politik Legendaris

Jumat, 12 April 2024 - 10:48 WIB

Oportunis? Waspadai dan Kenali Ciri-ciri Karakternya, Simak Selengkapnya!

Jumat, 12 April 2024 - 10:39 WIB

Sejarah Awal Berdiri Kejaksaan, Berikut Ini Struktur Organisasi serta Fungsinya

Jumat, 12 April 2024 - 10:34 WIB

Pengertian Warehouse, Berikut Ini Fungsi dan Manfaat di Perusahaan

Jumat, 12 April 2024 - 01:26 WIB

Tujuan Dirikan Perusahaan, Berikut Ini Beberapa Tugas dari Struktur Jabatannya

Berita Terbaru

Gambar Ilustrasi Redaksi kabarpers (Siklon Tropis)

Catatan Redaksi

Mengenal Ukuran Siklon Tropis atau Badai dengan Kekuatan Besar

Senin, 15 Apr 2024 - 00:19 WIB

Eksplorasi konten lain dari kabarpers

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca