Pertambangan Emas: Sejarah Penggali Emas PT Antam Tbk dan Maraknya para Gurandil di Pongkor

- Jurnalis

Senin, 18 Desember 2023 - 12:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan Gambar: Lokasi Keberadaan Perusahaan Penambang Emas PT Antam Tbk di Gunung Pongkor, Kabupaten Bogor, Jawa Barat (kabarpers/doc)

i

Keterangan Gambar: Lokasi Keberadaan Perusahaan Penambang Emas PT Antam Tbk di Gunung Pongkor, Kabupaten Bogor, Jawa Barat (kabarpers/doc)

Kabarpers – Gunung Pongkor sebagian besar masyarakat khususnya di Bogor tepatnya di Kec. Nanggung, Kab. Bogor, Provinsi Jawa Barat terkenal dan diidentikan dengan lokasi aktivitas pertambangan emas oleh PT Antam Tbk dan PETI.

Berbagai informasi bahwa dahulu kala disebutkan, sejak ditemukan banyaknya temuan emas pada tahun 1988 pinggiran Gunung Pongkor, hingga mulai ditambang oleh Unit Bisnis Pertambangan (UBP) Emas sekitar pada tahun 1994.

Setidaknya diketahui ada sebanyak 6 (enam) terowongan atau lorong yang sudah dibuat untuk pengambilan ore atau bijih emas secara tertutup atau underground.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sementara itu, tambang emas bawah tanah yang dibuat tersebut di antaranya terdiri dari Kubang Handak, Ciguha, Kubang Cicau, Ciurug, Pasir Jawa, dan Pamoyanan.

Kemudian pihak PT Tbk atau PT Antam Tbk dalam hal ini adalah Unit Bisnis Pertambangan Emas Pongkor (UBPEP) yang mengantongi izin resmi sebagai kuasa pertambangan eksploitasi sejak 10 April 1992 untuk jangka waktu 30 tahun.

Semula seluas 4058 hektare, kemudian diperluas menjadi 6047 hektare yang terdiri atas Taman Nasional Gunung Halimun, Hutan Lahan Perhutani, dan lahan masyarakat setempat.

Bahkan PT Aneka Tambang adalah satu-satunya Badan Usaha Milik Negara yang melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi mineral logam emas di Indonesia. Komoditas andalan mereka saat ini adalah nikel dan emas.

Hingga saat ini, diklaim cadang emas Pongkor merupakan yang terbesar di pulau Jawa, hingga semakin mengukuhkan nama PT Aneka Tambang sebagai satu-satunya BUMN yang bergerak dalam bidang industri pertambangan, setelah mengekspor feronikel, nikel kadar tinggi dan beberapa variannya, melalui pabrik mereka di Pomalaa, Sulawesi Tenggara.

BACA JUGA :  Pasi Ops Kodim 0621 Hadiri Pelantikan dan Pengambilan Sumpah Dilingkungan Pejabat di Pemkab Bogor

Selain memberi keuntungan sangat besar, penambangan ini juga menuai banyak persoalan sosial dan ekonomi yang rumit, dengan berbagai maraknya PETI. Dimana kegiatan PETI ini berawal ketika PT Antam Tbk memulai eksplorasinya di Pongkor sejak tahun 1988.

PETI waktu itu bentuk kegiatan dan intensitasnya masih bisa diabaikan. Mereka umumnya pendatang dari Cikotok yang sudah berpengalaman dan penduduk lokal yang belajar dari para pendatang dalam hal menambang emas.

Namun, ketika perusahaan mulai beroperasi dan berproduksi, jumlah mereka semakin bertambah. Jumlahnya masih puluhan sampai ratusan penambang, bahkan kegiatan mencuri batu emas dengan membuat lubang galian yang menembus urat emas milik perusahaan belum menimbulkan persoalan yang serius.

Di Gunung Pongkor, PT Antam Tbk menambang dibawah permukaan tanah, karena sebagian besar kawasan termasuk wilayah dalam naungan dari Taman Nasional Gunung Halimun yang ekosistemnya tidak boleh diganggu atau di gali.

Karena itu para gurandil terpaksa membuat lubang atau sumur baru, sehingga bisa mencapai urat emas yang mereka inginkan di lokasi penambangan tersebut. Namun, pada tahun 1997, seiring awal krisis ekonomi di Indonesia, jumlah gurandil meningkat secara pesat.

Kemudian dengan banyaknya pengangguran dan mudahnya mendapat uang di Pongkor, sehingga dengan bekerja sebagai gurandil, mereka gampang untuk mendapatkan uang. Dari sinilah awal sebagai penyebab utama dari meningkatnya jumlah para gurandil di kawasan tersebut.

Diketahui, sekitar 70 persen para gurandil ini adalah pendatang-pendatang dari dalam Provinsi Jawa Barat sendiri, yakni dari Cikotok, Salopa, Tasikmalaya, Sukabumi, Cianjur, Bogor, dan Rangkasbitung dan daerah lainnya.

BACA JUGA :  Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar Meresmikan Kantor Baru Koperasi INKOPPABRI di Karanggan Bogor

Kemudian juga ada beberapa penambang dari luar Provinsi Jawa Barat, seperti dari Provinsi Bengkulu, Kalimantan, dan Nusa Tenggara Timur. Dikabarkan hanya 30 persen dalam perkiraan yang berasal dari sekitar kawasan pertambangan itu yakni diantaranya dari Desa Bantar Karet dan Desa Cisarua.

Lebih menariknya, ada beberapa dari gurandil tersebut adalah karyawan dari PT Antam Tbk itu sendiri yang telah mengundurkan diri. Pemeran lain adalah aparat keamanan yang membuka akses dan memberi perlindungan bagi orang-orang yang bekerja sebagai gurandil.

Selanjutnya, jumlah PETI atau gurandil mencapai maraknya, puncaknya sekitar pada tahun 1998 hingga tahun 1999. Diperkirakan sebanyak 6.000 kurang lebih gurandil diduga menjarah lahan di kawasan pertambangan emas PT Antam Tbk.

Bahkan diisukan mereka (gurandil) telah menguasai hampir 200 hektare areal di lokasi pertambangan tersebut, yang tersebar di beberapa daerah prospek yakni dari blok Kubang Kicau, Cicurug, Gunung Butak.

Ketegangan Antara Pihak PETI dengan PT Antam Tbk

Insiden dan ketegangan PETI dengan perusahaan mencapai puncaknya pada Desember 1998, dimana saat itu, kerusuhan yang diduga membumihanguskan kompleks dan fasilitas Kantor UBPEP di Sorongan.

Diketahui bahwa nama PETI sering dipakai sebagai singkatan penambang emas tanpa izin, yang di kawasan pertambangan emas Pongkor lebih dikenal dengan sebutan gurandil.

Namun, dikalangan para pertambangan ini lebih suka mengartikan gurandil itu sebagai penggali tanpa izin atau penggali dari warga setempat. Karena mereka hanya menggali, yang tidak dapat dikategorikan sebagai menambang resmi atau berbadan hukum.

BACA JUGA :  BNNK Bersama IPWL GMDM DPW Bogor Jalin Kemitraan Pencegahan Peredaran Narkoba dan Obat Daftar Type-G

Dari perspektif hukum, kegiatan PETI adalah penambangan ilegal atau tanpa berbadan hukum. Itu sebabnya mereka kerap disebut pula sebagai penggali liar. Mereka menggali di kawasan yang menjadi wewenang dan hak suatu perusahaan yang memiliki izin penambangan.

Disebutkan bahwa PETI juga telah merugikan pihak perusahaan penambang yang resmi. Dan penggalian yang dilakukan oleh PETI, sering tak mengindahkan keselamatan kerja mereka sendiri yang pada akhirnya akan menjadi beban bagi pemilik penambang yang berizin.

Kemudian untuk diketahui, bahwa objek yang dimiliki oleh Unit Bisnis Penambangan Emas Pongkor, PT Antam Tbk pertama kali dieksploitasi pada tahun 1974. Dari sini, bisa dapat melihat proses penambangan emas yang harus melalui serangkaian proses pengeboran, peledakan, pengerukan, pengangkutan, dan penimbunan kembali.

Redaksi melansir dari laman website LIPI, bahwa untuk mendapatkan emas dari urat-urat ini, pihak PT Antam Tbk telah membangun terowongan utama berdiameter 3,3 meter setinggi 3 meter, kemudian terowongan ini tembus ke Gunung Pongkor yang jauhnya sekitar 4 (empat) kilometer.

Dimana pintu dari portal beton tersebut adalah akses satu-satunya jalan tempat keluar masuk lokasi penambangan emas. Lalu, dalam terowongan ini, terdapat sebanyak 4 (empat) lubang besar sebagai ventilasi.

Selanjutnya, dengan adanya ventilasi semacam ini, orang bisa bertahan lama untuk tinggal selama sekitar dua hari didalam terowongan tanpa harus kehabisan udara bersih. Apabila ingin memasuki terowongan emas tersebut. (Ss)

Editor : Safriz

Komentar Anda

Berita Terkait

Arus Mudik Idul Fitri, Pj. Gubernur Sumut Wujudkan Lebaran Aman dan Nyaman
Aksi Positif dan Mulia Pemuda Kp Cibata Ngecat Masjid, Ini Apresiasi H. Sukarman
Jelang Idul Fitri, Aktivitas Angkutan Batubara di Jalan Nasional Jambi Dihentikan
Kebakaran Hanguskan Gudang Amunisi Yon Armed, Simak Penjelasan dari Kadispen TNI AD
Jalin Sinergitas Antara Kapolres dengan MUI Sukabumi, Berikut Ini Apresiasi dari H. Sukarman
Korban Ditembak KKB Dimakamkan di TMP Waena, Ini Ucapan Duka Kabidhumas Polda Papua
Ramp Check Kendaraan Angkutan Lebaran Idul Fitri, Dishub Kota Bogor Tak Gelar Mudik Gratis
Operasi Kejahatan Jalanan, Polres Jakut Sosialisasi Dampak Negatif Pemakaian Petasan dan Tawuran

Berita Terkait

Minggu, 14 April 2024 - 02:47 WIB

Pengertian dan Tujuan Artikel, Berikut Ini Ciri-ciri serta Beberapa Contohnya!

Minggu, 14 April 2024 - 01:52 WIB

Mengenal Advertising dari Aspek Bahasa dan Berbagai Jenisnya

Sabtu, 13 April 2024 - 00:46 WIB

Merubah SHGB ke SHM, Berikut Ini Peraturan ATR/BPN dan Cara Ngurusnya

Jumat, 12 April 2024 - 10:48 WIB

Oportunis? Waspadai dan Kenali Ciri-ciri Karakternya, Simak Selengkapnya!

Jumat, 12 April 2024 - 10:39 WIB

Sejarah Awal Berdiri Kejaksaan, Berikut Ini Struktur Organisasi serta Fungsinya

Jumat, 12 April 2024 - 10:34 WIB

Pengertian Warehouse, Berikut Ini Fungsi dan Manfaat di Perusahaan

Jumat, 12 April 2024 - 01:26 WIB

Tujuan Dirikan Perusahaan, Berikut Ini Beberapa Tugas dari Struktur Jabatannya

Kamis, 11 April 2024 - 00:48 WIB

Kenali Koperasi Simpan Pinjam Indonesia, Ini Jenis dan Contohnya

Berita Terbaru

Gambar Ilustrasi Redaksi kabarpers (Advertising)

Catatan Redaksi

Mengenal Advertising dari Aspek Bahasa dan Berbagai Jenisnya

Minggu, 14 Apr 2024 - 01:52 WIB

Gambar Ilustrasi Redaksi kabarpers

Catatan Redaksi

Merubah SHGB ke SHM, Berikut Ini Peraturan ATR/BPN dan Cara Ngurusnya

Sabtu, 13 Apr 2024 - 00:46 WIB

Eksplorasi konten lain dari kabarpers

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca